Cari Blog Ini

Memuat...

resensi novel Garuda di Dadaku

a. Judul Buku : Garuda di Dadaku
b. Pengarang : Salman Aristo
c. Tahun Terbit : 2009
d. Penerbit : DAR ! Mizan
e. Tebal Buku : 144 halaman
Seoarang anak yang berjuang untuk menjadi pesepak bola professional Setiap manusia tentu mempunyai cita-cita. Bayu, tokoh utama film ini punya keinginan yang sederhana. Ia ingin menjadi pemain sepakbola yang andal.
Sedemikian merasuknya cita-cita itu, Bayu pun bermimpi bermain bal-balan bersama ayahnya yang telah meninggal dunia. Ayah Bayu memang pernah menjadi pemain sepak bola, sebelum bekerja sebagai sopir taksi.
Sayangnya, cita-cita Bayu menjadi pemain bola ini ditentang sang kakek, Usman (Ikranegara). Usman selalu mengatakan, menjadi pemain sepakbola berarti memilih hidup miskin. Bahkan, ia tak akan mengakui Bayu sebagai cucu , jika Bayu nekat menjadi pemain bola.


Di tengah upaya kakek Usman mendidik Bayu menjadi orang sukses lewat beragam kursus, Bayu justru bertemu dengan Johan (Ari Sihasale), pelatih sekolah sepakbola Arsenal di Jakarta. Pertemuan ini menjadi langkah awal bagi perjalanan panjang Baju untuk masuk menjadi tim sepakbola nasional yang memakai seragam berlambang garuda di bagian dada.
Sebagai film anak-anak, Garuda di Dadaku mencoba membangkitkan semangat cinta Indonesia melalui sepakbola. Penonton akan mudah tergiring ke suasana patriotik ketika menyaksikan adegan Bayu yang mengenakan seragam tim nasional berdiri di tengah lapangan berumput hijau.
Tak lupa, sindiran terhadap pemangku pemerintahan juga terselip dalam film ini. Ambil contoh, adegan yang menceritakan kesulitan Bayu dan rekannya mencari lapangan sepakbola untuk berlatih.
Tak hanya memuat unsur perjuangan seorang bocah untuk menggapai mimpinya, nilai-nilai persahabatan juga ditanamkan lewat hubungan Bayu dengan Heri. Meski mempunyai hambatan berupa cacat fisik, Heri mampu berperan sebagai sahabat sekaligus manajer Bayu. Film Garuda di Dadaku bakal diputar serentak pada 18 Juni mendatang, sesuai dengan masa liburan sekolah.
"Hidup ini kadang seperti pertandingan sepak bola. Ada pemain yang masuk, ada yang keluar. Kadang dia di pihak kita, kadang di pihak lawan. Datangnya bisa berdekatan waktunya, begitu juga keluar."

Novel ini mengisahkan perjuangan seorang anak yang sangat mendambakan menjadi pesepak bola profesional. Keandalan bermain bola melekat sejak kecil. Dia mendapat warisan kuat dari ayahnya yang dulu pemain bola nasional. Namun, meraih impian tak selamanya berjalan mulus. Rintangan justru datang dari orang yang dihormati dan dicintai. Kakeknya.

Salman Aristo lahir tahun 1976. dia adalah seorang penulis scenario film. Salman Aristo lulusan dari jurusan Jurnalistik di Universitas Padjajaran Bandung, dan merintis karier awal sebagai penulis naskah (script writer) di tahun 2004. bersama istrinya, Retna Ginatri S Noer, Salman Aristo menulis scenario untuk film Ayat-ayat cinta. Karyanya yang lain adalah Brownies, Cinta Silver, Alexandria, Jomblo, Ayat-ayat cinta, Laskar Pelangi, dan Kambing Jantan.

Pembaca novel ini adalah anak-anak dan dewasa. Novel ini tidak membebankan tanggung jawab, melainkan untuk membangun gairah sepak bola di generasi mendatang. Buku dan film ini juga mengharapkan adanya komitmen dari pemerintah untuk mewujudkan prestasi sepak bola nasional yang makin mumpuni. Indonesia menjadi memiliki potensi seperti isi dari novel ini. Novel ini dapat memajukan sepak bola nasional.
Akhir cerita yang seharusnya menggelegar dan membuncah menjadi datar. Adegan seorang bapak-bapak yang protes anaknya tidak masuk tim nasional kurasa tidak relevan,
gaya bahasa yang lugas, sehari-hari seperti riang khas anak-anak, mudah dipahami dan pesan moral yang disampaikan tidak terkesan menggurui.
Novel ini mengisahkan perjuangan seorang anak yang sangat mendambakan menjadi pesepak bola profesional. Keandalan bermain bola melekat sejak kecil. Dia mendapat warisan kuat dari ayahnya yang dulu pemain bola nasional. Namun, meraih impian tak selamanya berjalan mulus. Rintangan justru datang dari orang yang dihormati dan dicintai. Kakeknya.







a. Judul Buku : Garuda di Dadaku
b. Pengarang : Salman Aristo
c. Tahun Terbit : 2009
d. Penerbit : DAR ! Mizan
e. Tebal Buku : 144 halaman
Seoarang anak yang berjuang untuk menjadi pesepak bola professional Setiap manusia tentu mempunyai cita-cita. Bayu, tokoh utama film ini punya keinginan yang sederhana. Ia ingin menjadi pemain sepakbola yang andal.
Sedemikian merasuknya cita-cita itu, Bayu pun bermimpi bermain bal-balan bersama ayahnya yang telah meninggal dunia. Ayah Bayu memang pernah menjadi pemain sepak bola, sebelum bekerja sebagai sopir taksi.
Sayangnya, cita-cita Bayu menjadi pemain bola ini ditentang sang kakek, Usman (Ikranegara). Usman selalu mengatakan, menjadi pemain sepakbola berarti memilih hidup miskin. Bahkan, ia tak akan mengakui Bayu sebagai cucu , jika Bayu nekat menjadi pemain bola.


Di tengah upaya kakek Usman mendidik Bayu menjadi orang sukses lewat beragam kursus, Bayu justru bertemu dengan Johan (Ari Sihasale), pelatih sekolah sepakbola Arsenal di Jakarta. Pertemuan ini menjadi langkah awal bagi perjalanan panjang Baju untuk masuk menjadi tim sepakbola nasional yang memakai seragam berlambang garuda di bagian dada.
Sebagai film anak-anak, Garuda di Dadaku mencoba membangkitkan semangat cinta Indonesia melalui sepakbola. Penonton akan mudah tergiring ke suasana patriotik ketika menyaksikan adegan Bayu yang mengenakan seragam tim nasional berdiri di tengah lapangan berumput hijau.
Tak lupa, sindiran terhadap pemangku pemerintahan juga terselip dalam film ini. Ambil contoh, adegan yang menceritakan kesulitan Bayu dan rekannya mencari lapangan sepakbola untuk berlatih.
Tak hanya memuat unsur perjuangan seorang bocah untuk menggapai mimpinya, nilai-nilai persahabatan juga ditanamkan lewat hubungan Bayu dengan Heri. Meski mempunyai hambatan berupa cacat fisik, Heri mampu berperan sebagai sahabat sekaligus manajer Bayu. Film Garuda di Dadaku bakal diputar serentak pada 18 Juni mendatang, sesuai dengan masa liburan sekolah.
"Hidup ini kadang seperti pertandingan sepak bola. Ada pemain yang masuk, ada yang keluar. Kadang dia di pihak kita, kadang di pihak lawan. Datangnya bisa berdekatan waktunya, begitu juga keluar."

Novel ini mengisahkan perjuangan seorang anak yang sangat mendambakan menjadi pesepak bola profesional. Keandalan bermain bola melekat sejak kecil. Dia mendapat warisan kuat dari ayahnya yang dulu pemain bola nasional. Namun, meraih impian tak selamanya berjalan mulus. Rintangan justru datang dari orang yang dihormati dan dicintai. Kakeknya.

Salman Aristo lahir tahun 1976. dia adalah seorang penulis scenario film. Salman Aristo lulusan dari jurusan Jurnalistik di Universitas Padjajaran Bandung, dan merintis karier awal sebagai penulis naskah (script writer) di tahun 2004. bersama istrinya, Retna Ginatri S Noer, Salman Aristo menulis scenario untuk film Ayat-ayat cinta. Karyanya yang lain adalah Brownies, Cinta Silver, Alexandria, Jomblo, Ayat-ayat cinta, Laskar Pelangi, dan Kambing Jantan.

Pembaca novel ini adalah anak-anak dan dewasa. Novel ini tidak membebankan tanggung jawab, melainkan untuk membangun gairah sepak bola di generasi mendatang. Buku dan film ini juga mengharapkan adanya komitmen dari pemerintah untuk mewujudkan prestasi sepak bola nasional yang makin mumpuni. Indonesia menjadi memiliki potensi seperti isi dari novel ini. Novel ini dapat memajukan sepak bola nasional.
Akhir cerita yang seharusnya menggelegar dan membuncah menjadi datar. Adegan seorang bapak-bapak yang protes anaknya tidak masuk tim nasional kurasa tidak relevan,
gaya bahasa yang lugas, sehari-hari seperti riang khas anak-anak, mudah dipahami dan pesan moral yang disampaikan tidak terkesan menggurui.
Novel ini mengisahkan perjuangan seorang anak yang sangat mendambakan menjadi pesepak bola profesional. Keandalan bermain bola melekat sejak kecil. Dia mendapat warisan kuat dari ayahnya yang dulu pemain bola nasional. Namun, meraih impian tak selamanya berjalan mulus. Rintangan justru datang dari orang yang dihormati dan dicintai. Kakeknya.







0 komentar:

Poskan Komentar